Rabu, 05 November 2014

Tugas blok metode penulisan ilmiah


Variasi Bahasa dalam Masyarakat Indonesia


Latar Belakang
     Bahasa dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak ada bahasa tanpa masyarakat (Saragih, 2009). Setiap orang pasti memerlukan bahasa untuk saling berkomunikasi. Hal ini disebabkan karena bahasa dipengaruhi  perkembangan ilmu dan teknologi, maka suatu bahasa dapat terjadi pergeseran.
    Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi sosial (Rakhmat, 2012). Bahasa adalah suatu wahana untuk berinteraksi dengan orang lain (Dardjowidjojo, 2003). Dengan demikian setiap anggota masyarakat tentunya memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut.
     Hingga saat ini dirumuskannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang menjadi bahasa negara. Sejak itupun perkembangan bahasa Indonesia terus berkembang, beribu-ribu istilah dan kata-kata baru bermunculan. Maka dari itu bahasa Indonesia menjadi bahasa yang canggih yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang juga berkembang dan modern.

Ragam-Ragam Bahasa dalam Masyarakat di Indonesia

     Bahasa indonesia sebagai sarana ilmu, budaya, dan susastra. Sejalan dengan jumlah penutur dan luas penyebarannya, bahasa Indonesia dipakai sebagai suatu bahasa ilmu, budaya, dan susastra (Zaenal & Tasai, 2012). Contohnya dengan memandang bahasa daerah seperti bahasa Kerinci. Dari contoh itu dapat ditelusuri seberapa jauh bahasa itu dapat dipakai sebagai saraana susastra, budaya, dan ilmu.
     Tentang susastra. Tentang susastra bahasa Kerinci kaya dengan macam dan jenis susastranya walaupun hanya susastra lisan. Susastra Kerinci telah memasyarakat kesegenap pelosok daerah kerinci. Dengan demikian, bahasa Kerinci telah dipakai sebagai sarana dalam susastra walaupun sastranya terbatas pasa susastra lisan.
     Tentang budaya. Tentang budaya bahasa Kerinci telah dipakai pula dalam kebudayaan Kerinci walaupun hanya dalam berkomunikasi, bertutur adat, bernyanyi, dan berpantun (Zaenal & Tasai, 2012).  Berkomunikasi termasuk kedalam budaya dalam setiap daerah. Bernyanyi, berpantun juga ermasuk kedalam budaya bahasa kerinci.
     Tentang ilmu pengetahuan. Di dalam ilmu pengetahuan, bahasa Kerinci belum mampu memecahkannya. Jika hendak menulis surat, orang-orang Kerinci memakai bahasa Indonesia, bukan bahasa Kerinci (Zaenal & Tasai, 2012). Hal ini membuktikan bahwa bahasa Kerinci belum mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana ilmu.
     Ragam lisan. Ragam lisan yaitu suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap dari mulut (Natalina, 2012). Tidak dapat dipungkiri, bahasa Indonesia ragam lisan sangat berbeda dari bahasa Indonesia ragam tulis. Ragam lisan merupakan bahasa yang sangat mudah karena tidak perlu dinyatakan grammar secara lengkap. Namun tidak semua ragam lisan dapat dituliskan (Zaenal & Tasai, 2012). Meskipun begitu, menggunakan bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk melatih berbicara dengan orang lain atau didepan umum.
     Karakteristik bahasa lisan. Karakteristik lisan adalah bagaimana ciri-ciri dalam menggunakan bahasa secara lisan. Tentunya dengan adanya ciri-ciri dalam bahasa lisan orang dapat mengetahui bagaimana menggunakan bahasa lisan yang baik. Beberapa hal yang akan dinyatakan dalam ciri-ciri bahasa lisan antar lain :
     Memerlukan adanya orang kedua. Orang yang menggunakan bahasa lisan tentunya tidak akan terjadi komunikasi yang baik jika tidak ada orang kedua yang hadir. Artinya, berbicara dengan lisan juga mengharuskan adanya teman bicara di depan. Oleh sebab itu ciri-ciri ini termasuk kedalam karakteristik bahasa lisan.
     Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap. Didalam bahasa lisan unsur-unsur fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, dan intonasi. Berbeda dengan ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan.
     Terikat ruang dan waktu. Bahasa lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada diluar ruang itu.
     Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Jika bahasa lisan tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara maka apa yang diucapkan tidak akan mungkin terjadi. Hal ini disebabkan karena bahasa lisan adalah suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap dari mulut. Maka dari itu diperlukan suara agar terjadi komunikasi secara lisan dengan baik.
     Ragam tulis. Artinya, suatu bentuk komunikasi yang terbentuk dari kosa kata yang disusun sehingga terbentuk suatu kalimat yang memiliki arti dan dituangkan kedalam bentuk tulisan (Natalina, 2012). Ragam tulis tentunya dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar dan huruf miring. Dengan demikian, ragam tulis memiliki karakteristik tersendiri antara lain :
     Karakteristik bahasa tulis.
     Tidak memerlukan kehadiran orang lain. Orang yang menggunakan ragam tulis tentunya tidak memerlukan orang kedua untuk hadir. Artinya, dengan menggunakan ragam tulis dapat berbicara tanpa mengharuskan adanya teman di depan pembicara. Oleh sebab itu ciri-ciri ini termasuk kedalam karakteristik bahasa lisan.
     Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap. Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar (Zaenal & Tasai, 2012).
     Tidak terikat ruang dan waktu. Bahasa tulis sangat tidak terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis di Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris. Sebuah buku yang ditulis pada tahun 1985 akan dapat dipahami dan dibaca oleh orang yang hidup tahun 2012 dan seterusnya. Hal itu sangat dimungkinkan oleh kelengkapan unsur-unsur bahasa yang ada di dalam ragam tulis tersebut (Zaenal & Tasai, 2012).
     Tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Jika bahasa tulis dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara maka itu tidak dapat dikatakan sebagai bahasa tulis. Hal ini disebabkan karena bahasa tulis adalah suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap melalui tulisan. Ragam tulis hanya perlu dilengkapi tanda baca, huruf besar, dan huruf miring. Contohnya komunikasi yang melalui tulisan adalah  buku, sms, majalah, koran, dan lain sebagainya. Maka dari itu ragam tulis tidak diperlukan suara untuk menyampaikan sebuah informasi.
     Ragam baku dan ragam tidak baku. Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh warga masyarakat sebagai bahasa resmi dan kerangka norma bahasa dalam penggunaanya (Zaenal & Tasai, 2012). Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku (Zaenal & Tasai, 2012). Jadi, ragam baku adalah ragam yang dijadikan tolok ukur sebagai ragam yang baik dan benar (Zaenal & Tasai, 2012). Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
     Mantap. Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Jika kata rasa dibubuhi awalan (pe-), akan terbentuk kata perasa. Kata raba dibubuhi (pe-), akan terbentuk kata peraba. Oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi (pe-) akan menjadi perajin, bukan pengrajin. Semua kata yang berawal dengan huruf (r) tidak menimbulkan persengauan jika mendapatkan imbuhan (pe-). Jika berpegangan pada sifat mantap, kata pengrajin kata rajin tidak dapat kita terima. Bentuk-bentuk lepas tangan, lepas pantai, dan lepas landas merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku (Zaenal & Tasai, 2012).
     Dinamis. Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan toko tempat berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang berlangganan it disebut pelanggan (Zaenal & Tasai, 2012).
     Cendikia. Ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal. Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca (Zaenal & Tasai, 2012).
     Seragam. Ragam baku bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman (Zaenal & Tasai, 2012). Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari. Jadi, Unsur keseragaman itu harus disetujui oleh semua pihak. Jika ada pihak yang tidak setuju atas pemakaian suatu istilah atau suatu kata, maka istilah tersebut tidak dapat dibakukan. Contoh lain adalah istilah polisi tidur. Sampai saat ini istilah polisi tidur belum dapat dibakukan karena belum semua pengguna bahasa dapat menerimanya.




Kesimpulan

       Bahasa begitu melekat erat, menyatu jiwa di setiap penutur di dalam masyarakat. Banyak ragam-ragam bahasa yang digunakan dalam pembicaraan seseorang. Ia laksana sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi keadaan masyarakat dan kemasyarakatan. Fungsi bahasa sebagai alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan di dalam masyarakat inilah di namakan fungsi bahasa secara tradisional. Maka dapat di katakan hubungan antara bahasa dan penggunanya di dalam masyarakat ini merupakan kajian sosiolinguistik.
     Sebagai simpulan, yang dimaksud dengan bahasa yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah bahasa dengan konsisten. Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa yang baik adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan kondisi pemakaiannya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam masyarakat dapat dikatakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.












Daftar Pustaka



Arifin, E. Z., & Tasai, S. A. (2012, Desember). Bahasa indonesia sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian. Tanggerang, Indonesia: Pustaka Mandiri.
Dardjowidjojo, S. (2003). Psikolinguistik: Pengantar pemahaman bahasa manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Natalina, D. C. (2012). Jenis-jenis bahasa. Diunduh dari: http://natalinadc.blogspot.com/2012/09/jenis-jenis-bahasa.html
Rakhmat, J. (2012). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saragih, F. (2009). Masyarakat bahasa. Diunduh dari: http://ferdinan01.blogspot.com/2009/02/hubungan-masyarakat-dan-bahasa.html
Surya, D. (2012). Pengertian masyarakat tutur menurut ahli. Diunduh dari: http://www.academia.edu/6910303/PENGERTIAN_MASYARAKAT_TUTUR_MENURUT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar