Senin, 10 November 2014

Tugas Final Project Blok Penulisan Ilmiah


Berbagai Cara Mengatasi Depresi dan Stres pada Orang Dewasa

Latar Belakang Masalah
     Pada zaman modern ini, banyak manusia yang mengalami stres, kecemasan, dan kegelisahan. Masih saja ada orang yang berpikir bahwa stres dan depresi bukan benar-benar suatu penyakit. Padahal, dibandingkan AIDS yang menjadi momok saat ini, stres dan depresi jauh lebih bertanggung jawab terhadap banyak kematian. Hal tersebut disebabkan dari sumber berbagai penyakit (Lubis, 2009).
     Stres dan depresi yang dibiarkan berlarut-larut akan membebani pikiran dan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh. Apabila seseorang berada dalam emosi yang berebihan, maka tubuh seseorang akan menjadi lemah. Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini yang mendapat perhatian serius. Hal itu disebabkan oleh tingkat stres yang sangat tinggi akibat tuntutan hidup yang semakin bertambah (Lubis, 2009).
     Berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Rathus (1991) menyatakan bahwa orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerak tingkah laku serta kognisi. Artinya, bahwa penting sekali depresi dan stres untuk diatasi dengan baik. Hal itu disebabkan jika dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan seseorang tidak mampu berinteraksi secara positif di lingkungannya.
     Pada dasarnya, stres dan depresi perlu dikelola dan diatasi. Dalam pikiran seseorang tentunya pernah berusaha untuk membiarkan atau menghindari kondisi, situasi, dan peristiwa yang penuh dengan tekanan. Meskipun begitu, ada orang yang berusaha mengubah, mengelola, atau mengatasinya secara tepat dan efektif.

Cara Mengatasi Stres dan Depresi dengan Pola Hidup Sehat dan Pola Hidup Harmonis
     Pola hidup sehat. Pola hidup sehat adalah cara menghadapi stres yang terbaik. Pola hidup sehat digunakan dengan cara mengelola perilaku dan tindakan. Sehingga dengan adanya stres tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi menjadi sehat dan berkembang. Orang-orang yang menjalani pola hidup sehat adalah kelompok yang mampu mengelola waktu dan kesibukan dengan cara yang baik dan teratur. Hal itu berarti seseorang tidak perlu merasa ada sesuatu yang menekan meskipun sebenarnya tantangan dan tertekan cukup banyak (Christian, 2005).
     Pola hidup harmonis. Pola hidup harmonis adalah pola menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis. Hal tersebut berarti tidak menimbulkan suatu hambatan untuk menghadapi stres dengan pola ini. Dalam pola ini, individu mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mengatur waktu secara teratur. Dengan demikian, akan terjadi keharmonisan dan keseimbangan antara tekanan yang diterima dengan reaksi yang diberikan. Tentunya juga dengan pola ini keharmonisan antara dirinya dan lingkungannya tetap terjaga (Christian, 2005). 
    


Cara Mengatasi Stres dan Depresi dalam Mengembangkan Sikap Positif Seseorang
     Hadapilah masalah dengan sikap positif. Stres tidak selalu disebabkan oleh sesuatu yang nyata, tetapi sesuatu yang dipikirkan, dianggap, dan dibayangan yang mengganggu. Stres dapat juga menimbulkan kesulitan serta ancaman bagi penderita stres yang berlebihan. Pada waktu menghadapi stres semacam itu, sebaiknya selalu bersikap positif. Berikut ini akan disampaikan gagasan-gagasan bagaimana mengembangkan sikap positif (Hardjana, 1997) .
     Pikirkanlah lebih dahulu. Jika pada suatu saat dalam hidup seseorang terkena stres, sebaiknya tetap tenang dan bertanya kepada diri sendiri. Apa penyebab stres itu nyata atau hanya bayangan. Berpikir sejenak sebelum membiarkan diri menjadi korban stres dan memberikan kesempatan untuk meninjau pengandaiannya (Hardjana, 1997).
     Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dalam menghadapi kesulitan atau masalah sebaiknya bertanya terlebih dahulu. Selain itu, pikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah hal yang ditakutkan agar tidak menjadi kenyataan. Pada akhirnya, kita harus mengambil sikap yang dapat kita lakukan untuk menghadapinya. Dengan cara itu, seseorang dapat  mengembangkan rasa percaya dirinya dan juga dapat bersiap mental untuk melengkapi diri. Hal itu adalah cara yang tepat untuk mengatasi masalah (Hardjana, 1997).
     Belajar dari orang lain. Seseorang mungkin tidak mampu mengatasi stres. Tetapi dengan adanya  teman dan sahabat, mereka semua dapat membantu seseorang untuk mengatasi stresnya. Dengan menjumpai orang-orang terdekat tersebut, seseorang akan dapat belajar darinya tentang bagaimana menghadapi stres yang dialaminya. Berkat nasihat, bantuan, serta petunjuknya seseorang juga dapat dirangsang menjadi kuat untuk menghadapi stres (Hardjana, 1997).
     Meningkatkan kualitas tidur. Tidur yang terganggu kadang-kadang merupakan gejala stres yang utama. Kondisi ini sering merupakan hal yang paling sulit untuk dikembalikan ke kondisi semula. Hal ini berarti pola tidur yang terganggu sering merupakan tanda-tanda pertama adanya stres. Tidur terkadang begitu kompleks, namun begitu alami sehingga tidak dapat dipahami dengan cara ini. Tetapi juga sangatlah mungkin bagi seseorang untuk mendapatkan pola tidur yang baik .
     Tidur secara rutin. Tidur merupakan proses biologis. Tidur merupakan refeleksi salah satu ritme biologis mendasar yang mengatur kerja tubuh seseorang. Jadi, jika seseorang tidak mengikuti atau mengacaukannya ritme biologis tersebut, maka ritme itu akan berpengaruh buruk pada seseorang yang mengalaminya (Rogers & Graham, 1999).
     Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa tidurlah secara rutin, dan jangan ubah pola tidur yang sudah ada. Dengan demikian, setiap metabolisme seseorang akan tidak beraturan jika tubuhnya tidak memiliki kebiasaan tidur secara rutin. Selain itu, apabila tida sesuai dengan rutinitasnya maka, kondisi tubuh yang dialami akan sekin buruk.
     Manfaat terapi tawa untuk kesehatan. Orang yang menderita beraneka penyakit yang berhubungan dengan stres dengan cara tertentu telah merasakan manfaat sesi tawa. Tetapi ada penyakit kronis yang telah disembuhkan oleh terapi tawa. Tawa lebih merupakan terapi pelengkap dan pencegahan (Kataria, 1999).
     Antistres. Tawa adalah penangkal stres yang paling baik, murah, dan mudah. Tawa adalah salah satu bentuk cara terbaik untuk mengendurkan otot. Tawa mempelebar pembuluh darah dan mengirim lebih banyak darah hingga ke ujung-ujung dan ke semua otot di seluruh tubuh. Satu putaran tawa yang bagus juga mengurangi tingkat hormon stres, epineprine, dan cortisol. Dapat dikatakan tawa adalah sebentuk meditasi dinamis atau relaksasi (Kataria, 1999).
     Dalam meditasi, orang harus melakukan usaha untuk melepaskan diri sepenuhnya untuk menghidari gangguan. Ketika tertawa, setiap orang tidak secara sadar berpikir dan semua indera secara alami dan spontan bersatu dalam saat yang selaras. Dalam model-model meditasi lain, perlu banyak berkonsentrasi untuk menyingkirkan pikiran-pikiran yang menggangu. Oleh karena itu, bentuk meditasi tersebut merupakan yang paling mudah dan yang langsung memberikan relaksasi (Kataria, 1999).
     Depresi, kecemasan, dan gangguan psikosomatis. Stres dan tekanan kehidupan modern berdampak buruk terhadap pikiran dan tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti kecemasan, depresi, gangguan syaraf, dan insomnia mengalami peningkatan. Hal tersebut berarti perlu adanya suatu terapi yang dapat membantu penyakit tersebut agar tidak mengalami suatu peningkatan yang cukup signifikan (Kataria, 1999).
     Dapat disimpulkan bahwa tawa adalah salah satu terapi yang baik untuk membantu banyak orang dalam mengobati depresi tanpa harus menggunakan obat penenang. Jika begitu, mereka akan lebih mudah tidur dan mengalami penurunan tingkat depresinya. Orang-orang yang mempunyai kecenderungan bunuh diri mulai mendapat harapan (Kataria,1999).

Simpulan
     Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa stres dan depresi merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Stres atau depresi yang tidak dapat diatasi dengan baik biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungannya. Arti dari lingkungan tersebut adalah lingkungan kerja maupun di lingkungan sehari-hari. Seseorang yang mengalami depresi akan menghadapi berbagai gejala negatif pada prestasi yang akan dicapai dalam hidupnya.
     Perbedaan seseorang dalam menghadapi penyakit stres tidak selalu sama. Cara mengatasi depresi atau stres setiap individu, tergantung pada kemampuan diri dalam mentoleransi tingkat stres yang dialami seseorang tersebut. Penyakit stres yang dialami individu mulai dari tingkat ringan, sedang dan berat. Oleh karena itu, dalam mengatasi stres terlebih dahulu harus melakukan pendeteksian penyebab stres nya. Kemudian dianalisis kondisi emosional individu yang bersangkutan dan diberikan treatment yang tepat bagi individu tersebut.
















Daftar Pustaka
Christian, M. (2005). Jinakkan stres: Kiat hidup bebas tekanan. Bandung: Next  Media
Hardjana, A. M. (1997). 35 cara mengurangi stres. Yogyakarta: Kanisius.
Kataria, M. (1999). Manfaat terapi tawa untuk kesehatan. Dalam M. Aria (Ed.), Laugh for no reason: Terapi tawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, N. L (2009). Depresi: Tinjauan psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rogers, T., & Graham F. (1999). Mengatasi stres (Kusnandar, Penerj.). Jakarta: Elex Media Komputindo (Karya asli diterbitkan pada 1999).


Rabu, 05 November 2014

Tugas blok metode penulisan ilmiah


Variasi Bahasa dalam Masyarakat Indonesia


Latar Belakang
     Bahasa dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak ada bahasa tanpa masyarakat (Saragih, 2009). Setiap orang pasti memerlukan bahasa untuk saling berkomunikasi. Hal ini disebabkan karena bahasa dipengaruhi  perkembangan ilmu dan teknologi, maka suatu bahasa dapat terjadi pergeseran.
    Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi sosial (Rakhmat, 2012). Bahasa adalah suatu wahana untuk berinteraksi dengan orang lain (Dardjowidjojo, 2003). Dengan demikian setiap anggota masyarakat tentunya memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut.
     Hingga saat ini dirumuskannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang menjadi bahasa negara. Sejak itupun perkembangan bahasa Indonesia terus berkembang, beribu-ribu istilah dan kata-kata baru bermunculan. Maka dari itu bahasa Indonesia menjadi bahasa yang canggih yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang juga berkembang dan modern.

Ragam-Ragam Bahasa dalam Masyarakat di Indonesia

     Bahasa indonesia sebagai sarana ilmu, budaya, dan susastra. Sejalan dengan jumlah penutur dan luas penyebarannya, bahasa Indonesia dipakai sebagai suatu bahasa ilmu, budaya, dan susastra (Zaenal & Tasai, 2012). Contohnya dengan memandang bahasa daerah seperti bahasa Kerinci. Dari contoh itu dapat ditelusuri seberapa jauh bahasa itu dapat dipakai sebagai saraana susastra, budaya, dan ilmu.
     Tentang susastra. Tentang susastra bahasa Kerinci kaya dengan macam dan jenis susastranya walaupun hanya susastra lisan. Susastra Kerinci telah memasyarakat kesegenap pelosok daerah kerinci. Dengan demikian, bahasa Kerinci telah dipakai sebagai sarana dalam susastra walaupun sastranya terbatas pasa susastra lisan.
     Tentang budaya. Tentang budaya bahasa Kerinci telah dipakai pula dalam kebudayaan Kerinci walaupun hanya dalam berkomunikasi, bertutur adat, bernyanyi, dan berpantun (Zaenal & Tasai, 2012).  Berkomunikasi termasuk kedalam budaya dalam setiap daerah. Bernyanyi, berpantun juga ermasuk kedalam budaya bahasa kerinci.
     Tentang ilmu pengetahuan. Di dalam ilmu pengetahuan, bahasa Kerinci belum mampu memecahkannya. Jika hendak menulis surat, orang-orang Kerinci memakai bahasa Indonesia, bukan bahasa Kerinci (Zaenal & Tasai, 2012). Hal ini membuktikan bahwa bahasa Kerinci belum mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana ilmu.
     Ragam lisan. Ragam lisan yaitu suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap dari mulut (Natalina, 2012). Tidak dapat dipungkiri, bahasa Indonesia ragam lisan sangat berbeda dari bahasa Indonesia ragam tulis. Ragam lisan merupakan bahasa yang sangat mudah karena tidak perlu dinyatakan grammar secara lengkap. Namun tidak semua ragam lisan dapat dituliskan (Zaenal & Tasai, 2012). Meskipun begitu, menggunakan bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk melatih berbicara dengan orang lain atau didepan umum.
     Karakteristik bahasa lisan. Karakteristik lisan adalah bagaimana ciri-ciri dalam menggunakan bahasa secara lisan. Tentunya dengan adanya ciri-ciri dalam bahasa lisan orang dapat mengetahui bagaimana menggunakan bahasa lisan yang baik. Beberapa hal yang akan dinyatakan dalam ciri-ciri bahasa lisan antar lain :
     Memerlukan adanya orang kedua. Orang yang menggunakan bahasa lisan tentunya tidak akan terjadi komunikasi yang baik jika tidak ada orang kedua yang hadir. Artinya, berbicara dengan lisan juga mengharuskan adanya teman bicara di depan. Oleh sebab itu ciri-ciri ini termasuk kedalam karakteristik bahasa lisan.
     Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap. Didalam bahasa lisan unsur-unsur fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, dan intonasi. Berbeda dengan ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan.
     Terikat ruang dan waktu. Bahasa lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada diluar ruang itu.
     Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Jika bahasa lisan tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara maka apa yang diucapkan tidak akan mungkin terjadi. Hal ini disebabkan karena bahasa lisan adalah suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap dari mulut. Maka dari itu diperlukan suara agar terjadi komunikasi secara lisan dengan baik.
     Ragam tulis. Artinya, suatu bentuk komunikasi yang terbentuk dari kosa kata yang disusun sehingga terbentuk suatu kalimat yang memiliki arti dan dituangkan kedalam bentuk tulisan (Natalina, 2012). Ragam tulis tentunya dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar dan huruf miring. Dengan demikian, ragam tulis memiliki karakteristik tersendiri antara lain :
     Karakteristik bahasa tulis.
     Tidak memerlukan kehadiran orang lain. Orang yang menggunakan ragam tulis tentunya tidak memerlukan orang kedua untuk hadir. Artinya, dengan menggunakan ragam tulis dapat berbicara tanpa mengharuskan adanya teman di depan pembicara. Oleh sebab itu ciri-ciri ini termasuk kedalam karakteristik bahasa lisan.
     Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap. Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar (Zaenal & Tasai, 2012).
     Tidak terikat ruang dan waktu. Bahasa tulis sangat tidak terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis di Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris. Sebuah buku yang ditulis pada tahun 1985 akan dapat dipahami dan dibaca oleh orang yang hidup tahun 2012 dan seterusnya. Hal itu sangat dimungkinkan oleh kelengkapan unsur-unsur bahasa yang ada di dalam ragam tulis tersebut (Zaenal & Tasai, 2012).
     Tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Jika bahasa tulis dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara maka itu tidak dapat dikatakan sebagai bahasa tulis. Hal ini disebabkan karena bahasa tulis adalah suatu komunikasi antar manusia untuk mengutarakan maksudnya melalui kata-kata yang terucap melalui tulisan. Ragam tulis hanya perlu dilengkapi tanda baca, huruf besar, dan huruf miring. Contohnya komunikasi yang melalui tulisan adalah  buku, sms, majalah, koran, dan lain sebagainya. Maka dari itu ragam tulis tidak diperlukan suara untuk menyampaikan sebuah informasi.
     Ragam baku dan ragam tidak baku. Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh warga masyarakat sebagai bahasa resmi dan kerangka norma bahasa dalam penggunaanya (Zaenal & Tasai, 2012). Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku (Zaenal & Tasai, 2012). Jadi, ragam baku adalah ragam yang dijadikan tolok ukur sebagai ragam yang baik dan benar (Zaenal & Tasai, 2012). Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
     Mantap. Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Jika kata rasa dibubuhi awalan (pe-), akan terbentuk kata perasa. Kata raba dibubuhi (pe-), akan terbentuk kata peraba. Oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi (pe-) akan menjadi perajin, bukan pengrajin. Semua kata yang berawal dengan huruf (r) tidak menimbulkan persengauan jika mendapatkan imbuhan (pe-). Jika berpegangan pada sifat mantap, kata pengrajin kata rajin tidak dapat kita terima. Bentuk-bentuk lepas tangan, lepas pantai, dan lepas landas merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku (Zaenal & Tasai, 2012).
     Dinamis. Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan toko tempat berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang berlangganan it disebut pelanggan (Zaenal & Tasai, 2012).
     Cendikia. Ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal. Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca (Zaenal & Tasai, 2012).
     Seragam. Ragam baku bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman (Zaenal & Tasai, 2012). Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari. Jadi, Unsur keseragaman itu harus disetujui oleh semua pihak. Jika ada pihak yang tidak setuju atas pemakaian suatu istilah atau suatu kata, maka istilah tersebut tidak dapat dibakukan. Contoh lain adalah istilah polisi tidur. Sampai saat ini istilah polisi tidur belum dapat dibakukan karena belum semua pengguna bahasa dapat menerimanya.




Kesimpulan

       Bahasa begitu melekat erat, menyatu jiwa di setiap penutur di dalam masyarakat. Banyak ragam-ragam bahasa yang digunakan dalam pembicaraan seseorang. Ia laksana sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi keadaan masyarakat dan kemasyarakatan. Fungsi bahasa sebagai alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan di dalam masyarakat inilah di namakan fungsi bahasa secara tradisional. Maka dapat di katakan hubungan antara bahasa dan penggunanya di dalam masyarakat ini merupakan kajian sosiolinguistik.
     Sebagai simpulan, yang dimaksud dengan bahasa yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah bahasa dengan konsisten. Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa yang baik adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan kondisi pemakaiannya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam masyarakat dapat dikatakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.












Daftar Pustaka



Arifin, E. Z., & Tasai, S. A. (2012, Desember). Bahasa indonesia sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian. Tanggerang, Indonesia: Pustaka Mandiri.
Dardjowidjojo, S. (2003). Psikolinguistik: Pengantar pemahaman bahasa manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Natalina, D. C. (2012). Jenis-jenis bahasa. Diunduh dari: http://natalinadc.blogspot.com/2012/09/jenis-jenis-bahasa.html
Rakhmat, J. (2012). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saragih, F. (2009). Masyarakat bahasa. Diunduh dari: http://ferdinan01.blogspot.com/2009/02/hubungan-masyarakat-dan-bahasa.html
Surya, D. (2012). Pengertian masyarakat tutur menurut ahli. Diunduh dari: http://www.academia.edu/6910303/PENGERTIAN_MASYARAKAT_TUTUR_MENURUT